ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN BENANG SUTERA DI KABUPATEN WAJO

Isi Artikel Utama

Tamrin Abduh

Abstrak

Penelitian ini berjudul Perkembangan Industri Pengolahan Benang Sutera di Kabupaten Wajo. Dalam Penelitian ini permasalahan terhadap ketersediaan sumber daya, sarana dan prasarana pada saat ini belum mendukung perkembangan industri pengolahan benang sutera di Kabupaten Wajo.Hal tersebut diperoleh dari hasil analisis tanaman. Murbei sampai dengan pertengahan tahun 2011 mengalami penurunan rata-rata 11,98%. Penggunaan jenis bibit ulat sutera (FI) yang berkualitas hanya sebesar 28,3%.
Bahan mentah sebagian besar diperoleh dari luar Kabupaten Wajo, dan hanya sekitar 20% diperoleh dari Kabupaten Wajo.


Pendapatan usaha industri pengolahan benang sutera skala rumahtangga lebih menguntungkan dibandingkam dengan skalausaha skala industri kecil dengan angka R/C Rationya 1,98 %. Angka ini menyatakan bahwasetiap seratus persen modal yangdikeluarkan oleh pengusaha sutera akan menghasilkan penerimaan sebesar 198% dengan tingkat penurunannya Rp.98.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Tamrin Abduh. (2014). ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN BENANG SUTERA DI KABUPATEN WAJO . Jurnal Ilmiah Administrasita’, 4(1), 104–118. https://doi.org/10.47030/administrasita.v4i1.84
Bagian
Articles

Referensi

Anonim, 1998. Laporan Proyek Pengernbangan dan Pembinaan Persuteraan Alam Sulawesi Selatan. Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan.

Anonim. 2000. Laporan Tahunan Depperdindag Kabupaten Wajo. Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wajo.

Anonim. 2000. Laporan Tahunan Dinas Kehutanan Kabupaten Wajo. Dinas Kehutanan Kabupaten Wajo.

Anonim. 2000. Wajo dalam Angka. Biro Pusat Statistik Kabupaten Wajo.

Anoni m. 1983. Pedoman Per suteraan Alam Proyek Kerja Sama Pembinaan Persuteraan Alam Indonesia, Japan International Corporation Agency. Departemen Pertanian, Sulawesi Selatan.

Anonim. 2000. Profil lnvestasi Pertenunan Sutera Kabupaten Wajo, Departemen Koperasi & PKM Kabupaten Wajo Sengkang.

Badan Litbang Departemen Kehutanan.1999. Tumbuhan Berguna Indonesia II

Dahaklory. Gerson MBK.1991. Peluang dan Kendala pada Pemasaran Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Darma, R. 1995. Sutera Alam Sulawesi Selatan, Keragaan dan Prospeknya, Lembaga Penelitian UNHAS, Makassar.

Guntoro, S. 1994. Budidaya Ulat Sutera. Penerbit Kanisius Yogyakarta.

Harold K.C.O. 1986. Silk Activity. Fifth Edition, Texas. USA.

Kartasapoetra, 1989. Manajemen Pertanian (Agribinis). PT. Bina Aksara, Jakarta.

Mubyarto, 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian PT. Pustaka LP3ES Indonesia: Jakarta.

Rahardi, dkk, S.A. 1986. Manajemen Agribisnis. Penebar Swadaya: Jakarta.

Kusuma Putra, S.A. 1986. Rencana Usaha Pembibitan Nat Sutera di Indonesia. Jakarta.

Saipul, A. 1979. Diklat Persuteraan Alam. Departemen Prindustrian. RL Dinas Perindustrian

Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar.

Makalah, 1999. Pengembangan Persuteraan Alam KabupatenWajo. Kantor DinasPerhutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Wajo, Sengkang.

Moulthy, S. 1974. The Home Industries Silk in Cgoperation. Pedition. Seoul Korea.

Soekartawi, 1994. Teori Ekonomi Produksi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sunanto. H, 1996. Budidaya Murbei dan Usaha Persuteraan Alam. Kanisius: Yogyakarta.

Hardjosoediro, S. 1995. Persuteraan Alamdi Indonesia. Fakultas Kehutanan UGM: Yogyakarta.

Perum Perbutani. 1999. Industri dan Pemasaran Benang Sutera Alam. Fakultas Kehutanan UNHAS: Makassar.

Simon, H. 1995. Persuteraan Rakyat; Masalah an Prospek-nya. Fakultas Kehutanan UGM: Yogyakarta.

Sudrajat, A, Bambang Harsiko, Persuteraan Alamat Rakyat diSulawesi; Selatan, Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.